Helo kembali lagi di StoryofPeponi majalah online dari Peponi Travel. Jika biasanya StoryofPeponi selalu membagikan tips dan berita tentang destinasi favorit-mu, Pada kesempatan kali ini penulis ingin membagikan cerita tentang bagaimana suasana berlibur kembali ke Bali pada saat masa pandemi.
Perlu diketahui rencana liburan tersebut sudah direncanakan sejak tiga bulan sebelumnya di mana pandemi belum kembali melonjak dan recana PPKM mungkin belum diterapkan.
Oke, lanjut, sebelum berangkat tentu saya harus melakukan swab test dan saya memilih swab antigen karena harganya cocok untuk budget. Nah, untuk melakukan swab bisa di mana saja asalkan tempat swab tersebut tervalidasi ya.

Captured by Mufid Majnun – Unsplash
Saya memilih swab di lokasi Bandara Soekarno-Hatta. Di Bandara Soekarno- Hatta banyak pilihan vendor untuk swab test. Saya memilih salah satu vendor yang bekerja sama dengan maskapai yang saya pilih, Air Asia dan mendapatkan diskon! Saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp 95.000 saja dan cukup menunggu selama 10 menit, hasil sudah keluar!
Bersyukur hasilnya negatif! Jadi sudah siap untuk berangkat deh!!
Oh iya, saat rentang waktu sebelum berangkat, sangat disarankan kamu untuk memeriksa, SMS, Email dan sosmed yang dapat menghubungi kamu. Karena kemungkinan besar akan terjadi reschedule jam keberangkatan.
Pada tanggal 26 saya berniat untuk check-in online maskapai Air Asia dan saya tidak mengecheck SMS dari Air Asia, jadi saya tidak tahu terjadi reschedule sampai h-1. Jangan diikuti ya.

Jadwal yang reschedule untungnya tidak terlalu jauh dengan jadwal tiket awal yang saya beli dan akhirnya hari keberangkatan tiba. Saya berangkat dari rumah ke Bandara Soekarno – Hatta pukul 05:00 pagi karena saya akan flight pukul 09:00.

Source: Tangerang Online
Sesampai di bandara, saya menuju ke tempat validasi. Antrian pada waktu itu tidak terlalu ramai sehingga proses validasi berjalan dengan cepat. Saat validasi kamu hanya perlu menunjukan KTP dan juga surat keterangan hasil swab kamu.
Oh iya, jangan lupa untuk mengunduh E-HAC dari Appstore atau Playstore ya. Setelah kamu mengunduh, kamu perlu mengisi data diri dan setelah kamu terdaftar, kamu dapat memilih menu akun dan memilih menu HAC. Setelah memilih menu HAC, kamu dapat membuat kartu E-HAC. Kamu perlu mengisi form untuk kota yang akan kamu datangi.
Panduan mengisi E-HAC:
Setelah validasi, baru kamu dapat berjalan ke counter check-in. Saya memang sudah check-in online namun tetap perlu untuk ke counter untuk validasi surat keterangan hasil swab dan mendapatkan boarding pass dan setelah itu hanya perlu menunggu jadwal penerbangan.

Source: The Jakarta Post
Oke, waktu penerbangan akhirnya tiba! Penerbangan bersama maskapai Air Asia sangat menyenangkan dan tentu keamanan menjadi prioritas utama. Saya akhirnya landing pada pukul 12:35 waktu Bali.
Saat hendak turun dari pesawat, kamu harus mengikuti peraturan baru dari maskapai selama penerbangan di masa pandemi. Penumpang turun dari pesawat secara berurutan dari kursi paling depan. Selama belum diintruksikan untuk turun, penumpang wajib duduk dan menunggu.

Source: Kementerian Kesehatan
Setelah turun dari pesawat siapkan aplikasi E-HAC. Kamu akan mendapatkan barcode setelah mengisi E-HAC. Proses validasi E-HAC sangat cepat karena crew sudah siap untuk validasi barcode kamu!
Dan akhirnya tiba juga di Bali, Pulau para Dewa. Di sana saya menyewa motor untuk menemani perjalanan saya. Awal sampai di sana saya memilih untuk membeli makan siang terlebih dahulu dan setelah itu saya bergegas menuju villa yang berada di Kuta Selatan.
Selama perjalanan ke Villa, tidak terlalu ramai dan tentu kita harus menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Setelah Check-in saya memilih untuk beristirahat sejenak, bersih-bersih dan berberes barang terlebih dahulu.
Sorenya saya langsung memilih untuk berjalan ke pantai. Pantai Balangan menjadi destinasi pertama saya untuk menikmati sunset pertama di Bali.

Perjalanan ke Pantai Balangan melewati jalan yang sangat mengasyikan! Langit yang hampir berubah warna menjadi pink, membuat perjalanan menjadi luar biasa!

Suasana pantai cukup ramai, namun pengunjung pantai menjaga jarak dengan baik. Saat menikmati keindahan laut dan matahari terbenam saya menggunakan masker dan menyiapkan hand sanitizer untuk tetap menjaga protokol kesehatan. Akhirnya sang surya terbenam, dan saya bergegas untuk mencari makan malam dan kembali ke villa. Alasannya adalah saya enggan untuk makan di tempat, karena protokol kesehatan dapat diterapkan.
Oke, itulah highlight perjalanan hari pertama saya di Bali!

Hari kedua, saya berencana bangun lebih pagi untuk menikmati paparan matahari yang langsung menyoroti villa dan bersantai sejenak di private pool yang tersedia.
Kenapa bermalam di villa dengan private pool? Tentu karena kamu bisa mendapatkan harga yang relatif murah saat masa pandemi ini.
Kami beruntung mendapatkan villa sebagus ini dengan harga hampir Rp 200.000/ malam!
Oke, selanjutnya saya bergegas untuk menikmati pantai dengan sinar matahari pagi yang menyehatkan!

Saya menuju pantai Gunung Payung. Pantai selalu menjadi spot favorit saya saat berlibur ke Bali. Keindahan pantai ini sangat luar biasa! Dan selalu ingin untuk kembali ke sana.
Untuk ke sana kamu perlu membayar tiket masuk Rp 10.000 dan perlu diingatkan untuk menikmati pantai ini kamu perlu menuruni semacam bukit dengan melalui anak tangga yang tersedia.
Jika miasalnya kamu tidak merasa mampu untuk turun naik tangga yang lumayan banyak, tidak disarankan untuk ke sana. Kamu dapat menikmati keindahan pantai dari atas.

Pada saat ke sana kondisi pantai sangat sepi! Serasa pantai sendiri deh hehehe. Kondisi pantai sangat bersih, jadi saat kamu ke sana tolong menjaga kebersihan pantai ya! Oke, selanjutnya saya kembali ke villa untuk bersantai dan makan siang. Menikmati sejenak berkat yang diberikan pada liburan kali ini.
Menuju sore, saya ingin menikmati suasana café. Saya menuju café Titik Temu yang berada di seminyak. Saya sudah mewanti-wanti keramaian café tersebut dan ternyata café tersebut sedang lumayan sepi dan saya memutuskan untuk menikmati minuman di sana.
Langit yang biru menjadi teman yang cocok untuk menikmati minuman.

Selepas menuju sunset saya mengunjugi Double Six Beach, yang di mana selalu menjadi pantai yang ramai saat belum ada masa pandemi. Sampai di sana kondisi pantai cukup padat, namun tetap menjaga jarak dengan baik. Lokasi yang luas ini menjadi mudah untuk para pengunjung dapat menjaga jarak. Jika kamu memang menghindari keramaiaan maka pantai ini bukan menjadi rekomendasi.
Setelah menikmati sunset, saya ingin membeli gelato, rasanya menikmati gelato di Bali sangat luar biasa deh! Saya mengunjungi, Secret Gelato. Oh iya selama perjalanan menyusuri seminyak yang pada umumnya ramai, menjadi benar-benar sepi. Banyak toko yang tutup dan jalanan cukup sepi. Sangat sedih sekali melihat kondisi seperti ini.
Setelah menikmati Gelato, saya kembali ke vila dan menikmati malam dengan berenang dan menikmati musik.

Hari ketiga menjadi hari yang ditunggu! Menikmati pantai dari pagi hari sampai sunset! Pantai pertama yang kamu coba datangi adalah Pantai Nusa Dua. Namun sesaat hampir tiba di sana pantai tersebut sedang ditutup. Sehingga kita perlu mencari lokasi pantai lain.

Saya mengubah rencana ke Pantai Geger. Pantai tersebut menjadi bagian dari fasilitas private dari Hotel Hilton Bali. Nah, kamu cukup perlu menikmati dibeberapa spot yang bukan bagian dari Hotel Hiton. Untuk ke sana kamu tidak perlu membayar apapun.
Setelah menikmati keindahan Pantai Geger, saya bergegas membeli makan siang dan kembali ke villa terlebih dahulu. Dan siang harinya kamu menuju ke Melasti dan menjadi kali kedua mengunjungi Pantai Melasti ini.

Sampai di area Melasti, kamu perlu membayar tiket masuk dengan harga Rp.18.000. Saya tidak terlalu lama menjelajahi Pantai Melasti. Di sana keadaan cukup berbeda, karena terdapat beberapa pembangunan.
Akhirnya saya mengujungi pantai yang cukup tersembunyi, Green Bowl! Jarak dari Melasti ke Green Bowl tidak cukup jauh. Lagi-lagi pantai ini perlu menuruni anak tangga untuk menikmati keindahannya.
Sesampai di bawah kamu akan menemukan pantai dengan air laut warna biru tosca yang indah! Sejenak usaha untuk turun tangga, terbayarkan. Sayangnya area pasir di sini cukup sempit dan ada beberapa pengujung, sehingga saya memutusukan untuk pergi dari sana.

Setelah menaiki anak tangga yang cukup melelahkan, saya memutuskan untuk mengunjungi Pantai Dream Land. Untuk ke sana kamu perlu melewati jalanan lika-liku dan perpohonan yang rindang! Sesekali saya menemukan sapi yang lucu sedang memakan rumput.

Rasanya jalanan tersebut bisa menjadi spot yang cocok untuk pengambilan footage pada kamera-mu! Sesampainya di Pantai Dream Land kamu perlu membyar tiket masuk secara suka rela. Keadaan pantai luas dan terdapat beberapa pengunjung. Tenang saja di sana kamu dapat menerapkan social distancing dengan baik.

Di sana saya menemukan spot terbaik untuk berjemur, dan tentu jauh dari keramaian. Ombak di sana cukup indah dan banyak orang yang melakukan aktivitas surfing! Uniknya pengunjung di sana lebih banyak mengumpul di tengah laut sambil berenang di banding daerah pesisir pantai.
Sambil menikmati matahari yang akan terbenam, kamu dapat menyaksikan aksi keren dari para peselancar! Keren sekali deh, seperti Aquaman saja.
Setelah menikmati keindahan pantai dan juga matahari sudah terbenam, saya bergegas kembali ke villa untuk bersih-bersih dan akan lanjut menjelajahi Bali pada malam hari. Saya menyempatkan diri untuk mengujungi Starbucks Reserve Dewata sembari menikmati malam di Bali.

Hari selanjutnya tiba, saya harus bersiap diri untuk perjalanan terjauh saat liburan di Bali. Saya akan mengujungi Tegalalang Rice Terrace yang berada di Ubud, Bali. Perjalanan dari Kuta Selatan menuju Ubud lumayan jauh.

Setelah perjalanan yang jauh, akhirnya sampai juga di Tegalalang Rice Terrace. Untuk menjelajahi terasering sawah tersebut kamu perlu membayar tiket masuk dengan harga Rp 10.000 saja dan kamu akan melihat pemandangan yang menakjubkan!
Selain terasering sawah yang memukau, di sana terdapat ayunan yang cocok untuk menjadi spot befoto. Kamu perlu membayar lagi untuk mencoba menaiki ayunan tersebut. kabarnya, jika tidak sedang pandemi, kamu perlu mengantri sampai beberapa jam untuk menaiki dan berfoto di ayunan tersebut.

Pada saat itu kondisi sepi dan hanya ada beberapa pengujung dengan jarak yang sangat jauh. Pokoknya pada saat itu saya dapat leluasa untuk menikmati keindahan dari Tegalalang Rice Terrace. Setelah itu, saya memutuskan untuk pergi ke café lagi. Saya mendatangi Old Friends Coffee. Café ini sangat sederhana namun menyajikan kopi yang luar biasa. Rasanya kamu akan sedang bersantai di rumah nenek.

Luas café ini memang kecil, namun tetap menjaga jarak aman diterapkan di sini. Café ini juga menjadi favorit bagi turis asing. Malahan saat saya datang ke sana, saya lebih banyak melihat turis asing menjadi tamu di café ini.
Namun tenang saja harganya cukup ramah di kantong kok!
Setelah menikmati kopi dan coklat di sana , saya bergegas kembali ke villa untuk bersantai, karena memang perjalanan cukup jauh. Terbesit untuk menikmati sunset terakhir di Bali sebelum besok kembali ke Jakarta. Saya memilih untuk menikmati sunset dari Tegal Wangi. Perjalanan ke Tegal Wangi cukup mengasyikan, namun berhati-hati terdapat banyak kotoran sapi di tengah jalan! Jadi waspada ya hehehe.

Sampai di Tegal Wangi saya cukup terkejut. Karena pada tahun 2018 saya pernah ke sana dan bisa untuk menikmati indahnya Tegal Wangi sampai ke bawah atau daerah pasir pantainya. Ternyata sekarang akses ke sana sudah ditutup. Entah apa alasannya. Namun yang pasti saat tahun 2018 sudah ada larangan berenang di daerah pantai tersebut karena arus laut yang berbahaya.
Jadi saat di sana kami menikmati sunset dari pinggir tebing dan untungnya tidak terlalu ramai. Saat dari sana kami akhrinya memilih untuk mengunjungi Stuja, café milik dari Dito Percussion. Harga yang ditawarkan lumayan standar layaknya café di Jakarta dan racikan minuman coklat sungguh nikmat apa lagi ditemani cookies hangat!
Dan itu menjadi malam terakhir saya di Bali.

Esoknya menjadi hari yang cukup berat untuk saya, karena harus meninggalkan Bali. Meski begitu, saya cukup beruntung dengan memilih schedule pulang di hari yang tepat. Karena pada besoknya PPKM mulai diterapkan.
Last Hours di Bali saya memilih untuk antigen setelah check-out. Banyak sekali pilihan antigen, kebetulan saya memilih di tempat yang sejalan dengan tujuan saya The Keranjang Bali.Di sana saya mengeluarkan Rp 200.000 untuk antigen dan bersyukur hasilnya negatif! Semua sesuai dengan rencana.
Sampai di The Keranjang Bali, saya membeli oleh-oleh. Dan ternyata The Keranjang Bali menjual produk UMKM dengan harga modal! Jadi ini bisa menjadi rekomendasi untuk membeli oleh-oleh di sana. Setelah itu saya memutuskan untuk mengujungi Titik Temu café lagi. Karena sebelumnya ingin mencoba Monsieur, namun ramai. saya di Titik Temu sampai sore dan mengujungi Mall Bali Galeria untuk mencari makan.
Dan akhrinya saya sampai diujung perjalanan saya di Bali. Sampai di Bandara Ngurah Rai International Airport, saya menunggu penerbangan dengan Citilink yang siap membawa saya kembali ke Jakarta dengan aman!
Oh iya selama cerita di atas saya tidak menceritakan makanan yang saya beli. Oleh karena itu akan menjadi section berbeda yang akan diceritakan pada di bawah ini! Berikut rekomendasi makanan yang mungkin bisa menjadi rekomendasi untuk travel budget:
Babi Guling Pak Dobiel (Non Halal)
Babi guling ini sempat saya datangi pada tahun 2018. Pada saat itu kondisi tidak terlalu ramai. Namun seketika Babi Guling Pak Dobile viral di sosmed dan tentu pada saat saya kembali ke sana pada waktu jam buka mereka sudah diserbu oleh pengunjung!
Jam Buka: 10:00 WITA.
Harga: untuk harga sesuai porsi. Ada harga Rp 25.000, Rp 35.000 dan Rp 50.000
Nasi Pedas Bu Andika (Halal)
Yup, sudah pasti tahu, warung nasi satu ini! Ini tentu selalu menjadi rekomendasi untuk kamu. Harga tentu sesuai dengan lauk yang kamu pilih.
Jam Buka: 24 jam * tergantung situasi dan kondisi*
Ayam Gepuk Pak Gembus (Halal)
Ini dia makanan rekomendasi saat di sana! Sudah enak tentu pas juga dengan kantong! Saya di sana memilih makan ini agar tidak terlalu besar pengeluaran di sana.
Jam Buka: 10:00 WITA *tergantung cabang*
Harga: untuk harga akan saya cantumkan, paket yang saya beli yaitu Paket Kethir dua dengan harga Rp 24.000 sudah dapat ayam, sate kulit atau usus dan tahu.
Depot Chandra (Non Halal)
Salah satu resto yang menjual menu babi guling dengan harga yang lumayan murah dan tetap rasanya sangat enak.
Jam Buka: 06:00 WITA
Harga: terdapat beberapa paket yaitu Rp. 15.000, Rp. 25.000, Rp. 35.000
Tempong Indra Bali (Halal)
Salah satu resto yang terkenal di Bali! Pada saat kemari resto ini cukup ramai dan sangat disarankan untuk take away.
Jam Buka: 10:00 WITA
Harga: tergantung paket yang pesan. Namun saya akan memberikan harga paket makanan yang saya beli sebagai patokan, yaitu Nasi tempong bebek goreng dengan harga Rp. 55.000. sudah dapat porsi bebek yang besar, tahu, ikan asin, sambal dan juga lalapan.
Babi Guling Dayu Kencani (Non – Halal)
Salah satu warung babi guling yang hanya buka pada malam hari. Warung ini cukup terkenal! Dan rasanya juga nikmat.
Jam Buka: 19:00 WITA.
Harga: Rp. 35.000
Yup, itulah cerita dari perjalanan saya ke Bali selama masa pandemi! Bali akan selalu menjadi destinasi yang membuat saya rindu dengan suasana di sana.
Intinya jika kamu ingin berlibur kamu harus terus menerapkan protokol kesehatan ya! Jangan selalu lupa menggunakan masker, membawa vitamin dan menyiapkan Hand Sanitizer! Oh iya, dengan aturan baru penerbangan, yaitu wajib menunjukan kartu vaksin akan membuat kamu lebih merasa aman nanti. Semoga pandemi cepat reda dan semoga kita bisa berlibur kembali!
Ayo Bangkit pariwisata Indonesia!
Tetap terhubung dengan informasi terbaru tentang destinasi liburan favorit kamu, melalui Instagram kami di @peponitravel!
Writer: Dylen Kumara, #TeamofPeponi
Editor: Darian, #TeamofPeponi
Story of Peponi – Official Online Magazine of Peponi Travel
PT Aku Bisa Liburan
